Element

Cara Tepat Menyimpan ASI Perah

Cara Tepat Menyimpan ASI Perah

Bunda yang sedang menyusui mungkin sering bertanya-tanya: ASI perah tahan berapa lama ya di kulkas atau suhu ruangan? Lalu, bagaimana sebaiknya menyimpan ASI agar bisa diberikan pada si kecil saat Bunda sedang bekerja atau di luar rumah? Tenang, hal-hal penting yang perlu Bunda ketahui seputar manajemen ASIP bisa Bunda pelajari di artikel ini!

Apakah Bunda saat ini sedang rajin-rajinnya memompa ASI untuk si kecil? Kalau iya, semangat terus, Bun! ByeBye-FEVER paham kalau memompa ASI butuh perjuangan tersendiri, apalagi jika Bunda seorang wanita karier dengan jadwal yang padat. Bersama ByeBye-FEVER kita bahas yuk, bagaimana cara menyimpan ASI perah dengan tepat. 

Jangan sampai dong hasil kerja keras Bunda yang bahkan mungkin juga dilakukan tengah malam terbuang sia-sia akibat manajemen ASIP yang salah. Kalau kualitas ASI perah Bunda terjaga, Bunda pun jadi tenang dan merasa nyaman saat memberikannya kepada si kecil, dan ini perasaan nyaman yang sama lho seperti yang dirasakan si kecil ketika plester kompres ByeBye-FEVER Bayi menempel di tubuhnya di kala demam. Oke, sekarang kita bahas langsung saja manajemen ASIP yang baik ya, Bun. 

 

Bagaimana caranya menyimpan ASI perah?

Banyak ibu yang mengingat “rule of fours” atau “aturan empat-empat” saat ingin menyimpan atau memberikan ASI perah kepada bayi. Apa maksudnya? Jadi begini: ASI dapat diberikan langsung pada bayi sampai empat jam setelah diperah, atau disimpan di kulkas selama empat hari. Gampang untuk diingat kan, Bun? 

Nah, untuk menyimpan ASI perahnya sendiri, Bunda harus memperhatikan storage atau wadah penyimpanan yang akan dipakai. ASI perah harus dijaga kebersihannya sehingga sangat dianjurkan Bunda menggunakan wadah steril yang tertutup rapat untuk penyimpanannya. Wadah ini bisa berupa gelas kaca steril, botol plastik bebas BPA, atau kantong plastik khusus ASI sekali pakai. Sebaiknya, penyimpanan ASI perah juga diletakkan di wadah yang berukuran tidak terlalu besar supaya tidak banyak sisa yang terbuang saat si kecil tidak habis meminumnya.

Saat menyimpan ASI perah di freezer, pastikan Bunda meletakkannya di bagian paling belakang yang memiliki suhu dingin stabil agar lebih tahan lama. Kalau bisa, jangan disatukan dengan bahan makanan lain di freezer supaya enggak bau. Lalu, jika Bunda melakukan pumping di kantor atau di luar rumah, usahakan selalu sedia cooler bag yang dilengkapi ice gel pack supaya ASI perah Bunda tetap fresh sesampainya di rumah.

ASI perah yang terkontaminasi bisa kehilangan kandungan nutrisinya atau bahkan mengakibatkan si kecil sakit. Makanya, selalu pastikan wadahnya tertutup rapat, tidak bocor, dan tersimpan aman di lemari pendingin sampai tiba waktunya diberikan pada anak. Oh iya Bun, jangan lupa untuk memberi keterangan tanggal dan jam di wadah ASI perah yang disimpan di kulkas agar Bunda tahu pasti kapan tanggal kadaluarsanya.

 

ASI perah tahan berapa lama, ya?

Berdasarkan guide book yang dirilis American Academy of Pediatric di tahun 2014, ASI perah memiliki ketahanan yang beragam tergantung dimana dan bagaimana cara kita menyimpannya. Nah, petunjuknya sudah ByeBye-FEVER rangkum dalam tabel sederhana yang bisa Bunda lihat di bawah ini:

 

asi-perah

 

  • Bagaimana sebaiknya memberikan ASI perah pada bayi?

Saat pertama kali mengeluarkan dari freezer atau kulkas, biasanya ASI perah ada dalam kondisi beku. Itu sebabnya Bunda perlu cara khusus untuk memberikannya pada si kecil. Ada beberapa cara yang bisa Bunda coba tergantung situasi dan kondisi:

  1. Keluarkan dari freezer dan letakkan di kulkas bagian bawah selama semalam. Dengan begini, ASI perah yang beku akan perlahan mencair sehingga bisa langsung Bunda berikan pada si kecil besok paginya.

  2. Letakkan botol atau plastik ASI perah di mangkok atau baskom yang diisi dengan air hangat. Bunda juga bisa menyiram wadahnya dengan air hangat di wastafel jika ingin susunya cair lebih cepat.

  3. Jangan panaskan ASI perah dengan microwave atau mendidihkannya di kompor. ASI yang sudah dipanaskan akan kehilangan kandungan nutrisinya dan cenderung memiliki rasa dan bau yang berbeda dari ASI segar. 

Yang paling penting untuk diingat adalah hindari perubahan suhu yang signifikan saat mencairkan ASI perah yang beku. Karena jika hal ini terjadi, kandungan antibodi pada ASI bisa rusak, Bunda.

Kalau ASI sudah cair dan siap diberikan pada anak, aduk-aduk supaya cairannya tercampur dan tidak terlalu menggumpal. Enggak ada salahnya juga Bunda cicipi ASI-nya terlebih dahulu untuk memastikan kalau rasa dan baunya tidak mengalami perubahan. Dengan begini, Bunda bisa tenang karena tahu si kecil mengkonsumsi ASI perah terbaik yang bisa Bunda berikan.

Demikianlah poin-poin penting yang bisa Bunda jadikan panduan untuk penyimpanan ASI perah atau manajemen ASIP supaya menyusui makin lancar dan si kecil pun sehat. Selalu semangat selama program pemberian ASI ya, Bun. Yuk bagikan artikel ini kepada teman-teman Bunda yang juga sedang menyusui. Semangat!

Mountain
Cloud Cloud Cloud Cloud
keyboard_arrow_down